Kamis, 21 Agustus 2008
Milisgrup orang Tarutung
Sude dongan par Tarutung !
Sudah hadir milisgrup khusus buat orang-orang Tarutung.Segala hal mengenai Tarutung maupun terkait dengan Tarutung bisa di informasikan/dibahas di alamat ini :
Sude dohot da...mudah-mudahan bermanfaat sebagai salah satu media komunikasi ni par Tarutung'
Horasss
Sudah hadir milisgrup khusus buat orang-orang Tarutung.Segala hal mengenai Tarutung maupun terkait dengan Tarutung bisa di informasikan/dibahas di alamat ini :
| Post message: | rura_silindung@yahoogroups.com |
| Subscribe: | rura_silindung-subscribe@yahoogroups.com |
| Unsubscribe: | rura_silindung-unsubscribe@yahoogroups.com |
| List owner: | rura_silindung-owner@yahoogroups.com |
Sude dohot da...mudah-mudahan bermanfaat sebagai salah satu media komunikasi ni par Tarutung'
Horasss
Rabu, 13 Agustus 2008
Bona ni Pasogit
"Rura Silindung rura na sun denggan i"
Begitu sepotong bait lagu "Rura Silindung" yang nadanya melankolis dan syair romantis menggambarkan keindahan kota kecil Tarutung dengan pernak-pernik penghuninya di masa lalu.
Seiring perputaran roda waktu kota kecil ini pelan tapi pasti mengalami perubahan baik penduduk,lingkungan,karakter dan hal-hal yang menjadi brand kota dingin ini.
Dahulu Tarutung adalah kota pelajar, tempat para siswa bukan hanya dari sekitar kota Tarutung menuntut ilmu, tetapi bahkan dari kabupaten/provinsi lain banyak berdatangan ke kota ini.Walaupun sekolah dengan tingkat pendidikan yang ada hanya sampai SLTA namun kota ini selalu menjadi pilihan para pelajar menuntut ilmu.
Sekolah-sekolah SMP1. SMP 2, SMP Nomensen,SMEP(Sekolah Menengah Ekonomi Pertama),SMP HKI,ST (Sekolah Teknik) HKI, belakangan ada SMP 3, SMP 4, serta SMA Negeri Tangsi,SMA HKBP,SMA HKI,STM HKI,STM Pansurnapitu (belakangan) menjadi saksi tempat ratusan ribu lulusan pelajar yang sudah tersebar di berbagai tempat.
Saat matahari mulai muncul di balik bukit, kerumunan pelajar berseragam menghiasi jalan-jalan menuju sekolah masing-masing.Sebelum angkutan umum menyemut seperti sekarang, sebagian besar pelajar berjalan kaki dari rumah menuju sekolah.Suatu pemandangan yang luar biasa dan selalu berkesan...!
Rombongan itu tambah meriah jika bertepatan hari Rabu dan Sabtu yang merupakan hari pekan/pasar.Masih terhitung subuh, barisan sepeda tukang nanas (honas) turun dari arah Hutagurgur membawa Nanas ke pasar Tarutung. beriringan dengan para pelajar menuju sekolah masing-masing.Suasana Tarutung yang betul-betul semarak dan hidup...!
Saat malam menjelang, udara dingin menusuk tulang.Para pelajar tak banyak yang keluyuran kecuali hari libur, Sabtu (malam minggu).Suasana hening dan tenteram sangat terasa.Sesekali terdengar alunan suara dan denting gitar parmitu dari beberapa lapo.Malam seakan berkejaran dengan dinginnya udara sampai penghuninya diantar ke peraduan.
Pagi hari kesibukan kembali seperti biasa, pedagang, parlapo, parhiong-hiong (pedagang kemenyan),petani, pegawai negeri,polisi, tentara dan semua lapisan masyarakat larut dalam keseharian.Namun waktu terasa lambat berputar, tidak ada yang dikejar waktu, semua berjalan wajar dan penduduk menikmati semuanya apa adanya.
Jika menjelang musim libur tiba, misalnya Natal dan Tahun Baru, Tarutung menjadi kota yang sangat ramai.Para penduduk Tarutung dan sekitarnya berbelanja ke kota Tarutung.Pasar penuh, toko-toko ramai pembeli.Momen ini sangat dinanti-nantikan terutama oleh anak-anak, karena saatnya mendapatkan pakaian dan sepatu baru.Lagu-lagu Natal terdengar dimana-mana,pohon terang bermunculan di rumah-rumah.Bahkan di simpang empat (Sirpang Opat) Tarutung sering ditempatkan sebuah pohon terang yang cukup besar dengan hiasan yang cukup bagus saat itu.Bunyi petasan/mercon, sinar kembang api dan dentuman meriam bambu meramaikan suasan menjelang hari besar tersebut.
Ketika libur Natal dan tahun Baru telah tiba, anak-anak sekolah yang berasal dari luar daerah Tarutung menumpuk di stasiun-stasiun bis berbagai jurusan.Mereka akan mudik menuju kampung halaman masing-masing.Dan ketika liburan Natal tiba, Tarutung terlihat lengang.Jalan-jalan sepi, kegiatan penduduk juga tidak begitu terlihat sibuk.Memang para pelajar Tarutung yang sekolah di daerah lain juga pulang ke Tarutung disamping para anak rantau yang kebetulan mudik.Namun jumlahnya tidak terlalu banyak.
Pada saat perayaan Natal , gereja-gereja penuh oleh penduduk yang merayakannya.Dan seperti biasanya justru perayaan tahun Baru yang lebih meriah dilaksanakan.Malam tahun baru menjadi saat yang digunakan untuk merenungi perjalanan keluarga selama setahun.Kebaktian singkat di rumah dan saling introspeksi dan bermaafan sering dilaksanakan pada malam ini.Besoknya berkunjung ke rumah saudara/keluarga, bersalam-salaman dengan kerabat dan tetangga sambil mengucapkan selamat Tahun Baru.
Sahat dison ma jolo sementara, paima fresh muse memory on...
Adong na naeng marcerita tentang kenangan di Tarutung Lae/Ito? kirim hamu asa rame blog on....Mauliate
Ama ni Rico Sitompul
Begitu sepotong bait lagu "Rura Silindung" yang nadanya melankolis dan syair romantis menggambarkan keindahan kota kecil Tarutung dengan pernak-pernik penghuninya di masa lalu.
Seiring perputaran roda waktu kota kecil ini pelan tapi pasti mengalami perubahan baik penduduk,lingkungan,karakter dan hal-hal yang menjadi brand kota dingin ini.
Dahulu Tarutung adalah kota pelajar, tempat para siswa bukan hanya dari sekitar kota Tarutung menuntut ilmu, tetapi bahkan dari kabupaten/provinsi lain banyak berdatangan ke kota ini.Walaupun sekolah dengan tingkat pendidikan yang ada hanya sampai SLTA namun kota ini selalu menjadi pilihan para pelajar menuntut ilmu.
Sekolah-sekolah SMP1. SMP 2, SMP Nomensen,SMEP(Sekolah Menengah Ekonomi Pertama),SMP HKI,ST (Sekolah Teknik) HKI, belakangan ada SMP 3, SMP 4, serta SMA Negeri Tangsi,SMA HKBP,SMA HKI,STM HKI,STM Pansurnapitu (belakangan) menjadi saksi tempat ratusan ribu lulusan pelajar yang sudah tersebar di berbagai tempat.
Saat matahari mulai muncul di balik bukit, kerumunan pelajar berseragam menghiasi jalan-jalan menuju sekolah masing-masing.Sebelum angkutan umum menyemut seperti sekarang, sebagian besar pelajar berjalan kaki dari rumah menuju sekolah.Suatu pemandangan yang luar biasa dan selalu berkesan...!
Rombongan itu tambah meriah jika bertepatan hari Rabu dan Sabtu yang merupakan hari pekan/pasar.Masih terhitung subuh, barisan sepeda tukang nanas (honas) turun dari arah Hutagurgur membawa Nanas ke pasar Tarutung. beriringan dengan para pelajar menuju sekolah masing-masing.Suasana Tarutung yang betul-betul semarak dan hidup...!
Saat malam menjelang, udara dingin menusuk tulang.Para pelajar tak banyak yang keluyuran kecuali hari libur, Sabtu (malam minggu).Suasana hening dan tenteram sangat terasa.Sesekali terdengar alunan suara dan denting gitar parmitu dari beberapa lapo.Malam seakan berkejaran dengan dinginnya udara sampai penghuninya diantar ke peraduan.
Pagi hari kesibukan kembali seperti biasa, pedagang, parlapo, parhiong-hiong (pedagang kemenyan),petani, pegawai negeri,polisi, tentara dan semua lapisan masyarakat larut dalam keseharian.Namun waktu terasa lambat berputar, tidak ada yang dikejar waktu, semua berjalan wajar dan penduduk menikmati semuanya apa adanya.
Jika menjelang musim libur tiba, misalnya Natal dan Tahun Baru, Tarutung menjadi kota yang sangat ramai.Para penduduk Tarutung dan sekitarnya berbelanja ke kota Tarutung.Pasar penuh, toko-toko ramai pembeli.Momen ini sangat dinanti-nantikan terutama oleh anak-anak, karena saatnya mendapatkan pakaian dan sepatu baru.Lagu-lagu Natal terdengar dimana-mana,pohon terang bermunculan di rumah-rumah.Bahkan di simpang empat (Sirpang Opat) Tarutung sering ditempatkan sebuah pohon terang yang cukup besar dengan hiasan yang cukup bagus saat itu.Bunyi petasan/mercon, sinar kembang api dan dentuman meriam bambu meramaikan suasan menjelang hari besar tersebut.
Ketika libur Natal dan tahun Baru telah tiba, anak-anak sekolah yang berasal dari luar daerah Tarutung menumpuk di stasiun-stasiun bis berbagai jurusan.Mereka akan mudik menuju kampung halaman masing-masing.Dan ketika liburan Natal tiba, Tarutung terlihat lengang.Jalan-jalan sepi, kegiatan penduduk juga tidak begitu terlihat sibuk.Memang para pelajar Tarutung yang sekolah di daerah lain juga pulang ke Tarutung disamping para anak rantau yang kebetulan mudik.Namun jumlahnya tidak terlalu banyak.
Pada saat perayaan Natal , gereja-gereja penuh oleh penduduk yang merayakannya.Dan seperti biasanya justru perayaan tahun Baru yang lebih meriah dilaksanakan.Malam tahun baru menjadi saat yang digunakan untuk merenungi perjalanan keluarga selama setahun.Kebaktian singkat di rumah dan saling introspeksi dan bermaafan sering dilaksanakan pada malam ini.Besoknya berkunjung ke rumah saudara/keluarga, bersalam-salaman dengan kerabat dan tetangga sambil mengucapkan selamat Tahun Baru.
Sahat dison ma jolo sementara, paima fresh muse memory on...
Adong na naeng marcerita tentang kenangan di Tarutung Lae/Ito? kirim hamu asa rame blog on....Mauliate
Ama ni Rico Sitompul
Langganan:
Postingan (Atom)